Minggu, 22 Mei 2016

interest diving

Pertemuan dengan Elly Dimara terjadi secara kebetulan. Saat itu, Kamis (5/5/2016), KompasTravel berada di destinasi wisata Pianemo bersama peserta "Special Interest Diving Famtrip" media Perancis undangan Kementerian Pariwisata.

Saat speed boat sandar di dermaga Piaemo, ada salah satu peserta famtrip ingin ke toilet. Jawaban mengejutkan disampaikan oleh Sofyan, pegawai Dinas Pariwisata Raja Ampat yang memandu kami ke Pianemo. "Di sini belum ada toilet. Kalau ke toilet harus ke pulau sebelah," katanya.

"Duh... ke pulau sebelah? Lagi kebelet begini," pikir KompasTravel.

"Seharusnya toilet sudah ada di lokasi ini. Kasihan wisatawan yang baru tiba bingung nyari toilet," kata Made Wira Adikusuma, Kasubbid Perjalanan Minat Khusus dan Konvensi Asdep Pengembangan Pasar Eropa, Timur Tengah, Amerika, dan Afrika Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata.
KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANAWisatawan di Piaynemo Homestay, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016).
Namun keinginan buang air kecil pun terkesampingkan oleh rasa penasaran dan kekaguman akan keindahan Pianemo yang hari itu dipadati speed boat di dermaga. Penuh wisatawan. Wisatawan yang mau naik tangga untuk melihat panorama dari atas bukit dan mereka yang sudah turun berpapasan di dermaga.

Setelah puas menikmati keindahan Pianemo, akhirnya rombongan kembali menaiki speed boat. "Kita menuju pulau sebelah," kata Sofyan.

Pulau sebelah yang disebut Sofyan ternyata tak jauh dari dermaga Pianemo. Tak sampai 10 menit speed boat sudah merapat di dermaga yang di sana terpampang Piaynemo Homestay.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANAPiaynemo Homestay, di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016).
Sampai dermaga, peserta famtrip bergegas menuju toilet homestayyang berada di bagian belakang. Sambil berjalan menuju toilet, di bawah dermaga terlihat ikan-ikan berenang dengan bebas. Pohon bakau merupakan tempat terbaik untuk berkumpul ikan-ikan tersebut..

Atraksi paling heboh adalah saat petugas dapur homestay membuang sisa potongan ikan ke bawah dermaga. Seketika ikan-ikan saling berebut makanan. Waah... ramainya suara cipratan air akibat aksi rebutan makanan itu. Kadang anak hiu dijumpai di perairan sekitarhomestay.

Makan siang sambil duduk di dermaga sungguh nikmat. "Coba turunkan kaki, taruh nasi di kaki. Goyang-goyangkan kaki. Nanti ikan-ikan itu akan menyemprotkan air," kata Sofyan.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANAMedia Perancis peserta 'Special Interest Diving Famtrip' undangan Kementerian Pariwisata di Piaynemo Homestay, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016).
Benar juga. Saat kaki KompasTravel berayun-ayun di dermaga, tiba-tiba ikan menyemprotkan air. Kaget juga. Ikan-ikan itu menyemprotkan air setinggi 1 meter lebih demi makanan.

Yang menarik di homestay ini adalah penampilan sang pemilik, Elly Dimara. Laki-laki berambut putih, bercelana pendek ini selalu duduk dekat resepsionis dan memperhatikan tamu yang lalu lalang di depannya. Sepertinya mereka tidak tahu, bahwa inilah si pemilikhomestay.

Kalau para pemandu wisata yang sedang mengantarkan tamu pasti tahu. Singgah di Piaynemo Homestay dan bertemu Elly, para pemandu wisata itu dengan ramah menyapa, "Selamat siang Oom..."

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANAWisatawan di Piaynemo Homestay, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016).
KompasTravel pun sebelumnya tidak tahu siapa laki-laki bertelanjang kaki yang duduk di sana yang selalu memperhatikan tamu yang lewat menuju toilet. Tamu pikir, pasti laki-laki itu pegawai homestay. "Itu pak Elly, pemilik homestay ini," kata Sofyan.

Saat disapa KompasTravel, Elly Dimara menyambut dengan ramah. Senyumnya mengembang. "Apa kabar," katanya sambil menjabat tangan KompasTravel dengan hangat.

Elly mulai bertutur mendirikan penginapan ini pada 14 September 2011. "Saya memang kelahiran di sini tetapi waktu saya habis bekerja di perusahaan minyak lepas pantai," kata Elly yang lahir bulan Maret tahun 1950 ini.

Bekerja di perusahaan pengeboran minyak sejak 1973 membawa dirinya kerap berpindah dari satu kota kota lain. Mulai dari Aceh, Medan, Natuna, Riau, Kalimantan, hingga Sulawesi.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANAElly Dimara di Piaynemo Homestay, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016).
Setelah merantau ke luar Papua, Elly balik ke kampung halamannya di Kampung Pam, Distrik Meos Mansuar, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Di sinilah awal Elly mendirikan penginapan dengan nama Piaynemo Homestay.

Elly menuturkan, nama "Piaynemo" berarti sambungan antara bagian kepala dan gagang harpun.

"Ide mendirikan tempat ini muncul saat melihat restoran dan homestaydi Pulau Batam, Kepulauan Riau. Dari situ saya lantas berpikir, kenapa saya tidak mendirikan tempat seperti ini di Papua, kampung saya," tutur Elly dengan ramah.

"Waktu membangun homestay ini, Pianemo belum berkembang seperti sekarang. Masih sepi wisatawan," sambungnya.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANAPantai yang masih alami di Piaynemo Homestay, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016).
Setelah homestay berdiri, lanjut Elly, tamu perama adalah wisatawan dari Kolumbia. Lantas muncul forografer dari Austria. Foto-foto keindahan Pianemo pun mulai tersebar ke mancanegara. Selanjutnya keindahan Pianemo dengan pulau-pulau karstnya itu semakin menjalar ke belahan dunia, termasuk di dalam negeri.

Saat ini Piaynemo Homestay baru memiliki 2 rumah, di mana masing-masing rumah memiliki 4 kamar dan dilengkapi toilet. "Tarifnya Rp 500 ribu per orang. Itu sudah makan 3 kali," kata Elly.

Jika ramai tamu, istri Elly yang tinggal di Sorong datang ke homestayuntuk ikut membantu melayani tamu yang datang.

Setiap hari wisatawan yang datang ke homestay milik Elly ini adalah mereka yang sudah puas menikmati keindahan Pianemo setelah menaiki 320 anak tangga itu.

KOMPAS.COM/I MADE ASDHIANADermaga di Piaynemo Homestay, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, Kamis (5/5/2016).
Sebelum kembali ke Waisai, mereka akan singgah di Piaynemo Homestay untuk makan siang dan mencari toilet. Menurut Elly, para pemandu wisata itu biasanya memberikan uang karena telah memakai tempat tersebut untuk makan siang. Kadang wisatawan membawa makanan sendiri.

"Bayarnya terserah mereka," katanya. Biasanya para pemandu wisata memberikan uang Rp 300.000. Uang tersebut disumbangkan Elly untuk keperluan kampung dan gereja di Distrik Meos Mansuar.

Semakin siang, semakin ramai speed boat sandar di Piaynemo Homestay. Rombongan wisatawan pun bertambah banyak. Tujuan mereka untuk makan siang, melepas lelah, dan mencari toilet. Elly dengan tatapan sejuk dan senyum ramahnya selalu memperhatikan mereka yang datang...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar